Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Kisah Lebah dan Laba-Laba Berdasarkan Alquran

          Sahabat Pelajar, mari kita belajar pada dua hewan kecil ini. Pernah dengar kisah antara Lebah dan Laba-Laba? Secara fisik kalian lebih suka Lebah atau Laba-Laba? Apa yang tampak dari keduanya, ternyata menyimpan rahasia makna yang besar dibalik nama dan fisik mereka. Nama mereka diabadikan di dalam Alquran, agar kita dapat mengambil hikmah dari kehidupan mereka, ya Lebah (An-Nahl) dan Laba-Laba (Al-Ankabut).





          Dalam hidupnya, Laba-Laba adalah binatang yang terlihat seram dan menakutkan, juga penipu dan pemalas. Banyak bintang lainnya takut untuk mendekat padanya. Ia memiliki kemampuan membangun sarang dengan membuat jaring-jaring seluas apapun yang diinginkannya, tetapi ia menjadikan jaring-jaring itu untuk menjebak mangsanya. Yang kemudian, hanya dengan menunggu ia pun berhasil mendapat mangsa untuk ia lahap sebagai santapan. Binatang apapun yang tersangkut di jaringnya, pasti akan binasa. Sebesar apapun jaring-jaring yang dibuatnya, tidaklah memiliki manfaat apapun untuk makhluk disekitarnya. Bahkan, meski tampak kokoh, ternyata jaring Laba-Laba sangatlah rapuh.

          Sedangkan dalam kondisi berbeda, Lebah adalah binatang yang kadang tampak lebih kecil dibandingkan Laba-Laba . Ia juga tak lebih menyeramkan dibandingkan Laba-Laba. Tapi ternyata, Lebah adalah binatang pekerja keras, jujur, pandai membagi tugas, dan banyak memberi manfaat. Lebah selalu berkeliling untuk mencari makanannya, mencari banyak bunga untuk dihinggapi yang kemudian akan dihisap nektar bunganya. Ia pun hanya akan mencari makan secukupnya, tidak suka menimbun makanan yang berlebihan.

         Lebah selalu memiliki pembagian tugas antara Lebah ratu dengan Lebah pekerja, sehingga memiliki disiplin kerja yang tinggi di sarangnya. Lebah juga tidak pernah mau merugikan apapun yang ada di sekitarnya, justru ia banyak memberikan manfaat mulai dari menyuburkan bunga, menghasilkan madu, bahkan sarangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi manusia. Sarangnya berbnetuk segi enam bukannya segi lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan lokasi.

          Itulah sekilas gambaran perbandingan antara hidup Lebah dengan Laba-Laba. Sahabat Pelajar, sebagai pemuda Muslim calon pewaris peradaban, sudah selayaknya kita meniru sifat Lebah, bukan Laba-Laba. Kita harus mau bekerja keras dan selalu jujur, tidak menjadi orang yang serakah apalagi menjadi penipu yang tampak baik tapi ternyata berbahaya. Kita harus dapat memberi manfaat untuk orang banyak, jangan menjadi hidup yang sia-sia. Seperti firman Allah: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada Lebah 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia';" (Q.S. 16:68), Hal ini agar manusia dapat mengambil manfaat dari sarang Lebah disekitar mereka. Dan satu hal yang paling penting, kita harus banyak berbuat agar menjadi pribadi yang kokoh dengan selalu bersandar kepada Allah. Sebagaimana ALlah memberi pelajaran melalui firman-Nya:

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain ALLAH adalah seperti Laba-Laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah Laba-Laba , sekiranya mereka mengetahui (QS 29:41)".
Saya mendapatkan cerita ini dari guru saya, ketika itu ada teman saya ketika di masjid waktu berdoa malah ramai sendiri, dan guru saya melihatnya. Akhirnya guru saya menghampiri anak tersebut dan menasihatinya dan menceritakan cerita berikut ini.






          Alkisah ada seorang nenek tua yang kedua matanya buta. Nenek tersebut hidup sendirian dirumah, tidak ada yang menemani. Namun nenek ini sungguh luar biasa, ia selalu berangkat ke masjid untuk salat jama'ah 5 waktu. Mulai dari shubuh , dhuhur, ashar, maghrib, isya' ia selalu berjamaah di masjid.

          Hingga suatu hari ia mendengar suara iqamah dari masjid, ia lalu bergegas berangkat ke masjid dengan membawa tongkatnya. Namun di tengah-tengah perjalan, tiba-tiba terasa tetesan-tetesan air hujan. Ia pun menambah kecepatan berjalannya ke masjid agar tidak kehujanan. Karena tergesa-gesa, ia tidak berhati-hati dan tersandung batu lalu kepalanya terbentur. Lalu ia memegang kepalanya, terasa ada sesuatu yang basah dan terasa sakit. Ternyata kepalanya berdarah. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke masjid. Setelah sampai di masjid, para jamaah menolong nenek tua tersebut.

          Sungguh luar biasa, keesokan harinya saat shubuh ia tetap pergi ke masjid untuk melaksanakan salat jamaah. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang anak kecil yang menawarkan diri untuk mengantarnya ke masjid. Anak kecil itu berkata, "Nek ? Ayo saya antar ke masjid." kata anak tersebut. Sang nenek pun menerima tawaran itu. Dan sampailah nenek tersebut di masjid. Ketika salat jamaah berakhir, anak kecil tersebut mengantarkan nenek itu lagi untuk pulang. Dan sampailah sang nenek di rumahnya. Anak kecil tadi langsung pergi.

          Keesokan harinya, anak kecil tersebut mengantarkan nenek itu lagi ke masjid serta mengantarkannya pulang juga. Begitu pula dengan keesokan harinya dan keesokan harinya lagi. Hingga pada hari ke-7, atas rasa terimakasihnya sang nenek ingin memberikan sesuatu, "Nak, terimakasih sudah selalu mengantarkan nenek berangkat dan pulang dari masjid, nenek hanyalah seorang yang miskin, tapi nenek punya sebuah handuk yang masih baru dan bagus, belum pernah nenek pakai handuk tersebut, terimalah handuk ini nak" dan anak kecil itu menjawab, "sudah nek gak usah, terimakasih." Lalu anak kecil itu pergi.

          Hari ke-9, sang nenek menawarkan jatah makannya. Sang nenek ini selalu mendapatkan makanan dari tetangganya, "Nak, ini nenek punya makanan untukmu, kebetulan nenek hari ini puasa, makan ya ?" Lalu anak kecil tersebut menjawab, "sudah nek gak usah, terimakasih." Lalu anak kecil itu pergi lagi. Hari ke-11, sang nenek lagi-lagi menawarkan sesuatu ke anak tersebut, "Nak, nenek punya uang, tapi uangnya tidak terlalu banyak, terimalah nak" dan anak tersebut menolaknya lagi. Di dalam hatinya, nenek berpikir bahwa anak tersebut adalah anak orang kaya, sehingga hadiah-hadiah yang diberikan nenek tersebut selalu di tolaknya karena ia sudah berkecukupan.

          Hari ke-13, sang nenek berkata kepada anak kecil tersebut, "Nak, aku tau bahwa kau adalah anak orang kaya, kau kuberi barang apapun tidak mau, kali ini nenek hanya bisa memberikan do'a supaya kamu dimudahkan urusan di dunia dan diakhirat, dan semoga kamu menjadi anak yang baik." anak kecil tersebut menjawab, "Tidak usah nek, terimakasih." Sebelum anak itu pergi, di peganglah dengan erat tangannya oleh nenek tersebut dan berkata, "Nak !! aku tau engkau anak yang kaya sehingga engkau aku beri barang apapun tidak mau. Tapi akal sehatku tidak bisa menerima kalau kau di beri do'a baik tidak mau !! katakan , sebenarnya siapa engkau !!?" Anak kecil tersebut menjawab, "Nek ! saya sebenarnya adalah Setan , saya selalu mengantarkan nenek ke masjid karena saya di cambuk oleh tuan saya karena nenek saat itu terjatuh dan kepalanya berdarah. Ketika nenek terjatuh dalam perjalanan ke masjid, gurgulah setengah dosa nenek, dan apabila nenek jatuh lagi, nenek akan masuk surga tanpa hisab !!"

Moral :
Sebagai seorang muslim, kita haru mencontoh nenek ini. Nenek yang matanya buta saja selalu melaksanakan salat jamaah di masjid. Bagaimana dengan kita yang masih diberi kesempurnaan fisik ? Dan saat orang lain mendoakan kita atau kita sedang berada di masjid di ajak berdoa, hendaklah kita mendengarkan dan mengatakan, "Aamiin." Jika kita di masjid ketika berdoa malah ramai sendiri atau mengobrol dengan teman kita, maka kita tidak ada bedanya dengan Setan.

Sekian dari saya, wassalamu alaikum wr. wb.
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetik paling tidak 31.104.000 kali selama setahun ?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya ?"

"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?" tanya si pembuat jam.

"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?" tanya si pembuat jam.

"Dalam satu jam harus berdetik 3.600 kali? Banyak sekali itu." Tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam dengan penuh kesabaran kemudian berkata lagi kepada si jam. "Kalau begitu sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?"

"Oh, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh semangat.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena teryata selama satu tahun penuh dia telah berdetik tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetik sebanyak 31.104.000 kali.

Moral :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas perkerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalaninya, kita ternyata mampu. Bahkan yang kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.
Sekian dari saya, Wassalamu alaikum wr. wb.


referensi :
Penunjang Program Wajib Belajar Geografi.
Jakarta Selatan: CV GRAHA PUSTAKA.
A. Sekilas tentang Surat al-Fatihah
Surat al-Fatihah adalah surat pembuka dari 114 surat yang terdapat di dalam al-Qur'an. Surat ini termasuk surat Makkiyah karena diturunkan di Makkah, saat Nabi Muhammad Saw. belum hijrah ke Madinah. Surat al-Fatihah memiliki banyak nama lain, seperti Ummul Qur'an, Suratus Syifa', Suratus Syafiyah, Suratud Du'a, Suratut Thalab, Suratus Su'al, Suratut Ta'limil Ma'salah, Suratul Mujziyah, dan lain sebagainya.

Surat al-Fatihah sangat populer di kalangan umat Islam. Nyaris seluruh umat Islam hafal surat ini di luar kepala, karena sebagai surat pembuka, juga karena hanya terdiri dari tujuh ayat. Meskipun begitu, surat ini mencakup instisari ajaran-ajaran al-Qur'an. Abu Said Rafi Ibnul Mualla Ra. pernah bercerita, "Abu Said berkata, 'Rasulullah Saw. berkata kepadaku, 'Maukah kamu aku ajari sebuah surat paling agung dalam al-Quran sebelum kamu keluar dari masjid nanti? 'Beliau pun berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar, aku pun berkata, "Wahai Rasulullah, engkau tadi telah berkata,'Aku akan mengajarimu sebuah surat yang paling agung dalam al-Qur'an. 'Maka beliau bersabda, '(Surat itu adalah) Alhamdulillaahi rabbil 'alamiin (surat al-Fatihah), itulah Sab'ul Matsaani (Tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam salat) serta al-Qur'an al-Azhim yang dikaruniakan kepadaku. "(HR. Bukhari).

Para ulama berpendapat bahwa keagungan surat al-Fatihah terletak pada ajaran-ajaran pokok, seperti masalah tauhid, keimanan, janji, dan kabar gembira bagi bagi orang beriman kepada Allah, ancaman dan peringatan bagi orang-orang kafir, tentang ibadah, dan juga kisah orang-orang yang beruntung (karena taat kepada-Nya) dan sengsara (karena mengingkari-Nya). Tema-tema besar seperti itu tercermin dalam surat al-Fatihah yang jika dikaji secara mendalam lewat tafsir-tafsir yang sudah ditulis oleh para ulama, maka tak akan pernah selesai dijabarkan dan dijelaskan.

Tentu saja kita tidak bisa memungkiri keluasan tema yang dikandung serta keistimewaan di balik ayat-ayat yang terangkum di dalam surat al-Fatihah. Surat ini juga menjadi penentu sah atau tidaknya salat seseorang, baik dalam kapasitasnya sebagai imam, mamkmum, atau pun salat sendiri (munfarid). Jika tidak membaca surat al-Fatihah, maka salatnya tidak sah.

Di situlah letak keunikan surat al-Fatihah. Dalam koneks ini, Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa melakukan salat, sedang ia tidak membaca Ummul Qur'an (al-Fatihah) di dalamnya, maka salatnya kurang (3x), tidak sempurna." Abu Hurairah ditanya, "Bagaimana kalau kami di belakang imam ?" Ia berkata, "Bacalah (secara sirry/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, 'Allah Swt. berfirman,'Aku telah membagi salat (yakni al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta." (HR. Muslim).


B. Manfaat Membaca Surat al-Fatihah

  1. Mengobati Segala Jenis Penyakit
    Dalam kita Tibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi(, disebutkan bahwa keutamaan-keutamaan al-Fatihah, antara lain sebegai berikut :
    • Jika kita punya hajat tertentu, maka al-Fatihah bisa dijadikan sebagai wasilah atau perantara.
    • Jika al-Fatihah dibaca 14 kali sebelum tidur, maka suami, isrtri, dan anak-anak akan selalu mengingat kita.
    • Jika al-Fatihah dibaca 41 kali, kemudian ditiupkan ke dalam air dan diminum serta dibuat mandi, maka hal itu bisa melepaskan rasa sakit dalam diri kita. Artinya, al-Fatihah bisa mengobati penyakit dalam.
    • Jika ada orang yang mengidap penyakit keterbelakangan mental, lalu dibacakan al-Fatihah sebanyak 7 kali dan diusapkan di kepalanya setiap pagi dan sekali sebelum tidur, maka penyakit itu bisa sembuh dengan seizin Allah.
    • Apabila al-Fatihah dibaca sebanyak 3 kali, kemudian kita meniupkannya ke dalam segelas air minum dan baca sambil mengusap ke anggota tubuh yang terasa sakit, insha Allah akan mengurangi, bahkan bisa menyembuhkan rasa sakit itu.
    • Bayi yang sering menangis juga bisa diterapi dengan al-Fatihah. Caranya, bacakan al-Fatihah sebanyak 7 kali dan usapakan ke atas kepala bayi itu pada malam hari atau pada setiap saat. Insha Allah akan sembuh.
     
  2. Memperoleh Ampunan dari Allah.
    Sebagai hamba Allah, tentu kita mengharapkan kasih sayang-Nya, belaian Rahman dan Rahim-Nya, sehingga dosa-dosa yang pernah kita lakukan diampuni atau dimaafkan. Oleh karena itu, salah satu media yang bisa dijadikan pintu mengetuk Rahman dan Rahim-Nya ialah al-Fatihah.
C. Kisah Nyata Orang yang Membaca al-Fatihah         

          Kisah nyata ini dialami oleh Pak Ghonim yang di-PHK dari pekerjannya. Pak Ghonim bersama keluarganya disuruh segara angkat kaki dari rumah kontrakan. Tentu saja ini merupakan kenyataan yang sangat pahit yang pernah ia alami. Tak ada lagi proses diplomasi, negoisasi, atau musyawarah. Semua buntu. Dan, jalan satu-satunya adalah segera angkat koper dari kontrakan. Sebab, Pak Siregar (pemilik kontrakan) harus segera menyerahkan rumah yang ditempati Pak Ghonim itu kepada pihak bank sebagai konsekuensi dari ketidakmampuannya membayar utang. Kabarnya, proses penyitaan rumah akan dilakukan esok harinya sekitar pukul 09.00 pagi.

           Pak Ghonim tak bisa berbuat apa-apa dengan kenyataan yang tengah dihadapinya. Apalagi, Pak Siregar juga tengah dililit kesusahan. Dengan penuh kesedihan, Pak Ghonim dan istrinya, juga tiga buah hatinya yang masih kecil ( anak pertama duduk di kelas 3 SD, anak kedua masih kelas 1 SD, dan ketiga masih balita), segera membereskan rumah dan mengepak barang-barang yang bisa dibawa.

          Jika keesokan harinya belum ditemukan jalan keluar, Pak Ghonim sudah merencanakan barang-barang tersebut akan dititipkan pada tetangga untuk beberapa hari, sebelum diangkut ke rumah orang tua istrinya di luar kota. Ia sendiri menginap di masjid dekat rumah, kebetulan ia sering ke masjid dan sudah kenal baik dengan ketua DKM di sana.

          Malam harinya, Pak Ghonim tidak jadi berangkat ke masjid karena melihat sang istri tidak henti-hentinya menangis. Sangat wajar karena kejadian itu di luar dugaan. Melihat istrinya yang sangat sedih, Pak Ghonim mengajaknya salat berjamaah Isya di tengah rumah kontrakan. Bagi Pak Ghonim dan istrinya, salat kali ini terasa begitu khusyuk. Pak Ghonim berdoa. sementara istrinya dan anak-anaknya mengamini.

          Singkat cerita, akhirnya mereka tertidur saat malam telah berlalu. Saat terbangun pada subuh hari, sekitar jam 04.00, dilihatnya si ulung yang bernama Rafi sedang salat. Tak pernah keduanya melihat Rafi salat Tahajjud. Mereka kaget sekaligus kagum. Saat Rafi berdoa, Pak Ghonim dan istrinya medengar anak yang baru kelas 3 SD itu mengulang-ngulang bacaan surat al-Fatihah. Mungin ratusan kali atau bahkan lebih, sambil mengadahkan tangan ke atas. Rafi tidak membaca doa apa pun selain al-Fatihah.

          Selesai salat, Rafi berkata pada ibunya, "Bu, Rafi pernah dengar dari Pak Ustadz kalau Allah senang mendengar surat al-Fatihah. Rafi baru ingat tadi malam. Ya udah, Rafi minta sama Allah dengan al-Fatihah itu supaya tidak jadi pergi dari sini."

          Mendengar penuturan Rafi yang masih kecil itu, ibunya hanya mengiyakan dengan mata berkaca-kaca. "Iya, semoga saja Nak" Jawab sang ibu.

          Tak disangka, selepas salat Subuh, ponsel jadul milik Pak Ghonim berdering. Ternyata, Pak Mughni, mantan bosnya di kantor menelepon. Mereka berbincang agak lama. Perbincangan itu seperti mengabarkan kebahagiaan. Itu terlihat dari perubahan air muka Pak Ghonim, yang tadinya kuyu menjadi cerah kembali. Penuh cahaya kebahagiaan.

          Setelah lama bincang-bincang dengan Pak Mughni, Pak Ghonim segera menghampiri istri dan anak-anaknya. Ia pun merangkul Rafi dengan mata berkaca-kaca.

          "Doamu dikabulkan Nak. Alhamdulillah. Hari ini kita jadi pindah dari sini. Tapi pindahnya ke rumah yang lebih bagus dari rumah ini" Kata Pak Ghonim.

          Mantan bosnya yang bernama Pak Mughni itu menawarkan pekerjaan baru, yaitu mengurus salah satu vila miliknya yang baru direnovasi. Vila itu terbilang mewah, luas, dan letaknya sangat strategis. Ketika Pak Ghonim mengungkapkan kondisi yang tengah dialaminya, mantan bosnya itu langsung menyuruhnya untuk segera pindah. Sungguh sangat ajaib Sungguh, Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya. Allah menolong Pak Ghonim dan keluarganya lewat perantara surat al-Fatihah.


Sekian dari saya .. kurang lebihnya mohon maaf ..
Wassalamu alaikum wr. wb.



referensi :Hannah Dewi Latifah. 2015. Selalu Ada Keajaiban. Jakarta: Sabil.